Dalil Tentang Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain)

Birrul Walidain bisa dikatakan sebagai bagian dalam etika yang menyuruh untuk berbakti atau berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam Hukum Islam, Berbakti kepada orang tua ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap Muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah non muslim. Setiap umat Islam wajib menta’ati setiap perintah dari keduanya selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Berikut Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an QS. Al-An’am (5): 151 Dalil Tentang Berbakti Kepada Orang Tua (Birrul Walidain), Yang bunyinya sebagai berikut :

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah! ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu; ‘Janganlah mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah kepada kedua orang tua (Ibu bapak), janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan rizqi padamu dan pada mereka;- dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatau (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu. Supaya kamu memahaminya. (QS. Al-An’am (5): 151)

Penjelasan Surat Al-An’am Ayat 151 Tentang Berbakti Kepada Orang Tua

Dalam Surat Al-An’am Ayat 151 tersebut di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan perkara-perkara yang diharamkan Allah azza wa jalla, dan salah satunya adalah menyakiti kedua orang tua dengan dasar mafhum dari perintah untuk berbuat baik kepada keduanya.

Dalam salah satu riwayat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam Haditsnya:

“Siapapun diantara kamu sekalian bila berbai’at kepadaku terhadap tiga perkara (kemudian beliau saw membacakan ayat قُلْ تَعَالَوْا sampai akhir ayat), maka: Barangsaiapa memenuhinya maka ia akan mendapat pahala dari Allah ta’ala, dan barangsiapa mengurangi darinya (tiga perkara), maka bila Allah mendahulukannya di dunia maka siksanya di dunia. Dan barangsiapa diakhirkan sampai di akhirat maka perkaranya kembali kepada Allah, bila Allah berkehendak menyiksanya maka ia akan disiksa, bila Allah berkehendak mengampuninya maka ia akan diampuni”.
HR. Hakim.¹

Telah disampaikan dari Abdullah bin amr bin ‘ash radliyallahu ‘anhuma:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:الكَبَائِرُ اَلْاِشْرَاكُ بِاللَهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَينِ وَقَتْلُ النَّفْسِ وَالْيَمِينُ الْغَمُوسِ
رواه البخارى

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dosa-dosa besar adalah Menyekutukan Allah, Durhaka kepada kedua orang tua, Membunuh orang dan Sumpah palsu”. (HR. Bukhari.)²

Dari Ayat dan Hadits tentang Birrul Walidain tersebut di atas menunjukkan apa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah termasuk dari perbuatan-perbuatan yang apabila dilanggar hukumnya dosa besar, dan salah satunya adalah bila menyakiti kedua orang tua. Dan resiko bagi orang yang menyakiti kedua orang tuanya maka hukumannya adalah siksa, dan siksanya bisa bisa didahulukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dunia bahkan bisa saja disiksa terus sampai di akhirat kelak, bila ia tidak lekas bertobat dan bila Allah ta’ala tidak mengampuninya.

Dan sesungguhnya apapun yang disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pastilah benar dan terbukti, karena beliau saw adalah perwakilan Allah subhanahu wa ta’ala di dunia ini untuk menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Dengan demikian sudah semestinya dan seharusnyalah kita tidak menerjang larangan-larangan Allah ta’ala dan Rasul-Nya, seperti menyakiti kedua orang tua dalam bentuk apapun, baik dalam ucapan dan tingkah laku kita. Dan berusaha semaksimal mungkin untuk berbuat baik dan membahagiakan keduanya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اَمَرْتُكُمْ بِشَيءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَن شَيْءٍ فَدَعُوهُ

“Apabila aku memerintahkan sesuatu kepada kalian maka laksanakan dengan semampunya, dan apabila aku melarang kepada kalian dari sesuatu maka jauhilah sesuatu tersebut”.
HR. Bukhari Muslim.³

Baca Juga : 6 Rukun Iman dan Hukum Kawin Kontrak

Daftar pustaka:

  1. Hadits dengan sanad shahih (Tafsir Ibnu Katsir. juz. 2. hal. 187)
  2. Kitab Riyadlush- Shalihin. hal. 42.
  3. Kitab Jami’ul Ulum wal Hukum. juz. 1. hal. 238.