Hukum dan Rukun Talak Menurut Islam

Hukum Talak saat ini seringkali diabaikan oleh masyarakat. Tidak sedikit umat Islam yang belum memahami hukum mengenai talak. Bahkan saat ini seorang suami dengan mudah mengucapkan kata talak tanpa dia menyadari konsekuensi dari ucapannya. Hanya karena terbawa emosi sesaat, tanpa sadar kata talak pun diucapkan. Namun setelah itu, dia bersikap seolah-olah tak melakukan hal tersebut. Dan payung pernikahan ternoda karena jauhnya amal dari ilmu.

Secara bahasa, talak bisa diartikan dengan melepaskan ikatan. Sedangkan secara syar’i, kata talak diartikan dengan melepaskan tali ikatan pernikahan. Talak semestinya menjadi jalan penyelesaian terakhir apabila semua jalan mufakat tak bisa menyelesaikan pertikaian rumah tangga, dan bila dilanjutkan hanya akan menyakiti kedua belah pihak. Talak dibenarkan apabila suami istri tak mungkin lagi mendapatkan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Lebih parahnya lagi, jika keduanya sudah secara sadar saling menyakiti dan tak ada niat untuk memperbaiki.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

Artinya : “Perkara halal yang paling dibenci Allah ialah talak (Perceraian).” (HR. Abu Daud, 2178, Ibnu Majah, 2018 dan al-Hakim, 2:196 )

5 Hukum Talak Menurut Islam

Hukum talak sendiri ada beberapa macam. Berikut akan kami bahas mengenai macam-macam hukum mengenai talak menurut Ibnu Hajar Al Asqolani, yaitu sebagai berikut:

1. Talak Haram

Yaitu talak yang hukumnya adalah haram untuk dilakukan. Sering pula disebut talak bid’i atau talak bid’ah. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan talak tersebut menjadi haram. Diantaranya, talak yang dijatuhkan saat istri sedang dalam keadaan haid atau dalam masa nifas, saat istri dalam kondisi suci tetapi telah disetubuhi, saat suami dalam kondisi sakit dengan tujuan agar sang istri tidak mendapat hak atas hartanya, dan mentalak istri dengan menggunakan talak tiga sekaligus.

2. Talak Makruh

Apabila seorang suami mentalak istrinya tanpa sebab apapun, padahal sang istri berkelakuan baik, akhlaknya mulia dan memiliki ilmu agama, maka talak tersebut hukumnya makruh. Tidak seharusnya seorang laki-laki mentalak istri yang tidak memiliki kesalahan syar’i yang membenarkan untuk jatuhnya talak. Talak seperti ini semestinya tidak dilakukan oleh seorang suami pada istrinya.

3. Talak Wajib

Talak yang hukumnya wajib untuk dijatuhkan yaitu bila mendapati kondisi dimana pertikaian antara suami istri sudah tak mungkin lagi didamaikan. Selain itu wakil dari masing-masing pihak juga gagal mencapai mufakat untuk mendamaikan rumah tangga mereka, atau hakim menganggap lebih baik untuk dijatuhkan talak, atau ada kondisi yang bila suami tidak mentalak malah menjerumuskan mereka pada dosa. Apabila kondisi seperti itu yang terjadi, maka talak menjadi wajib hukumnya.

4. Talak Sunnah

Talak yang keempat ini disebabkan apabila suami tidak mampu memberi nafkah baik lahir ataupun batin, atau istri tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, atau istri tidak mengindahkan segala perkara wajib yang harus dilakukan, seperti shalat lima waktu, puasa dan amalan wajib lainnya, sedangkan dia sulit untuk dinasihati.

5. Talak Boleh

Yaitu talak yang diperbolehkan untuk dilakukan apabila mendapati kondisi istri yang akhlaknya tidak terjaga dan bisa memberi efek negatif terhadap suami dan keluarga jika terus bersama dirinya, dan tujuan dari pernikahan juga sulit dicapai dengan kondisi tersebut. Apabila istri sudah tidak bisa diubah akhlaknya, maka dalam kondisi ini suami boleh menceraikan istrinya.

Rukun Talak

Itulah beberapa hukum talak yang dikenal sesuai syariat Islam. Ada beberapa rukun talak agar talak tersebut menjadi sah secara hukum Islam, yaitu:

A. Bagi Suami

  1. Berakal sehat
  2. Baligh
  3. Dengan kemauan sendiri

B. Bagi Isteri

  1. Akad nikah sah
  2. Belum diceraikan dengan talak tiga oleh suaminya

Lafadz/teks talak:

  1. Ucapan yang jelas menyatakan penceraiannya
  2. Dengan sengaja dan bukan paksaaan

Sedangkan untuk lafaz-nya, terdapat dua jenis lafaz talak, yaitu talak sharih dan talak kinayah. Untuk talak sharih, lafaz yang diucapkan sangat jelas. Contohnya, “Aku telah jatuhkan talakku kepadamu”. Sedangkan untuk talak kinayah, lafaz yang diucapkan berupa sindiran namun diniatkan oleh suami untuk mentalak. Sebagai contoh, “Pergilah dari rumah ini, dan jangan pernah mencoba kembali lagi.” Jika kata sindiran tersebut telah diucapkan dengan niat talak dari suami, maka telah jatuhlah talak suami pada istri.

Baca Juga : Kawin Kontrak dan Hukum Nikah

Demikianlah beberapa hal mengenai hukum talak dan syarat sah talak dijatuhkan. Semoga bermanfaat.