Sifat Jaiz Bagi Allah SWT

Web Islami – Mengenal Tuhannya adalah kewajiban yang mesti dicari oleh tiap umat. Karena itu baiknya Anda mengenal sifat Allah SWT secara keseluruhan sebagai salah satu bentuk implementasi iman seorang Muslim. Untuk bisa mengenal Allah SWT, bukan hanya ibadah mahdlah atau ibadah wajib yang harus selalu Anda laksanakan setiap harinya, namun juga harus dilengkapi dengan mengenal-Nya secara pribadi dengan mengenal ke-20 sifat wajib, 20 sifat, juga 1 sifat jaiz Allah SWT . Baik kedua puluh (20) sifat wajib dan sifat muhal Allah SWT sering kita dengar dilantunkan lewat pengeras suara di masjid-masjid setelah adzan, namun tampaknya memang sifat jaiz Allah yang sebenarnya hanya 1 justru sering terlupakan dari lagu-lagu itu.

Adapun dalil naqli tentang sifat jaiz bagi Allah SWT. Sifat Jaiz Bagi Allah adalah bahwa Allah SWT berbuat apa yang dikehendaki, seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَايَشَاءُ وَيَخْتَار

Artinya : “Dan Tuhanmu menjadikan dan memilih barang siapa apa yang dikehendaki-Nya. (Q.S. Al-Qashash: 68)

Dalam Surat ali-Imran ayat 26,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. [Q.S. ali-Imran 26].
Agar bisa mempertebal tebal sekaligus menyempurnakan keimanan kita, mari kita belajar bersama tentang 1 sifat jaiz Allah ini. Sifat jaiz Allah dalam bahasa Arab berbunyi :

  فعل كل ممكن او تركه

“fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu”.

Dalam bahasa Indonesia frasa tersebut berarti bahwa Allah SWT memiliki hak penuh untuk melakukan segala sesuatu yang mungkin dilakukan dan juga memiliki kuasa penuh untuk meninggalkannya.

Sifat jaiz ini bukan hanya menegaskan tentang kekuasaan, namun pula mengajarkan pada kita bahwa Allah SWT bukanlah dzat yang bisa diperintah apalagi dipaksa oleh siapapun.

Bayangkan saja jika Allah adalah dewa-dewa purba, yang lemah pada do’a, tirakat, dan berbagai permintaan dari umatnya. Maka, meskipun sulit, Tuhan menjadi semacam toko serba ada yang berkewajiban mengabulkan segala kepentingan umatnya. Untuk melepaskan diri dari pandangan ini Anda harus melatih diri untuk percaya bahwa Allah bukanlah sembahan yang bisa dipaksa. Dia tidak memiliki ikatan, dan Dia akan tetap menjadi Tuhan meskipun manusia mengikuti ataupun tidak. Namun, karena sifat welas asih yang dimiliki-Nya manusia bisa berlatih mengenal dan mencintai dzat Allah yang sempurna.

Sifat ja’iz pada Allah SWT juga menegaskan bahwa dia adalah dzat merdeka yang memiliki nalar sehat di luar kemampuan manusia paling bernalar sekalipun. Karena itu, Allah berhak dan memiliki kuasa penuh untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Berbeda dengan manusia, kebebasan manusia bisa menimbulkan berbagai macam perselisihan dan pertikaian antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain. Allah SWT, di atas semua kepentingan dan hasrat, memiliki kekuasaan nan murni. Sifat jaiz Allah menegaskan bahwa Dia tidak terbantahkan, namun pula tidak sewenang-wenang. Alam berjalan sesuai dengan hukum-Nya meskipun Allah SWT berkuasa untuk mengubahnya, atau tentu saja tidak mengubahnya.

Hakikat Manusia Memahami Sifat-Sifat Allah SWT

Jika kita masih ingat, selain Sifat jaiz Allah, ada pula 20 sifat wajib dan 20 sifat muhal bagi Allah. Kesemua sifat ini bergabung terkombinasi menjadi dzat Dia yang maha Sempurna. Allah tidak akan meniadakan satu sifat bertindihan dengan sifat yang lain. Dan oleh karenanya, meskipun Allah adalah dzat yang tidak terikat. Yang bisa melakukan segala hal, dia pula memiliki berbagai sifat wajib nan welas asih untuk membuat-Nya seimbang. Kita sebagai makhluk memang tidak bisa membayangkan dzat Allah sebagai sesembahan yang esa sama dengan akal sehat kita.

Jadi sebenarnya sekeras apapun seorang makhluk mencoba memahami Allah beserta sifat-sifatNya maka dia tidak akan pernah mengerti secara keseluruhan kecuali hanya sedikit saja. Masalah yang terjadi diantara umat Islam saat ini tercipta sebab mereka menjadikan pemahaman yang tidak menyeluruh itu sebagai dalil dan pembenaran bagi pandangannya sendiri. Karena itulah sering terjadi perpecahan, pertikaian, dan perbedaan golongan yang sebenarnya tak perlu ada saat manusia memahami keterbatasannya, yang tidak akan pernah mampu memahami Allah dan Sunatullah.

Bukan hanya 1 sifat jaiz Allah saja yang mesti kita ketahui betul, namun juga kesemua nama dan arti sifat-sifat Allah dan Rasul. Kata fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu saja merupakan implementasi penyampaian sifat ja’iz Allah dalam bahasa yang bisa dimengerti manusia. Seperti apakah bentuk sebenarnya dan bagaimana Allah menggunakan sifat tersebut sama sekali berada di luar jangkauan manusia awam.

Hanya orang-orang terpilih, sedikit dari manusia pilihan sepanjang sejarah peradaban yang berjalan di muka bumi ini telah mampu menembus hijab antara Tuhan dan makhluk dan mampu dekat pada Allah SWT. Dan harus kita ingat, mereka para manusia bijak yang terpilih tidak pernah memaksakan pengetahuannya untuk diikuti dan dimengerti manusia lain, kecuali beberapa yang telah benar-benar mampu saja. Karena itu jangan sampai kita terjebak pada pemahaman dan arogansi semu, dan tetap memandang 1 sifat jaiz Allah sebagai satu wacana sakral.

Baca Juga : Keutamaan Puasa Arafah