Sifat Jaiz Bagi Rasul Beserta Contohnya

Berita Islam – Dalam sejarah lahir dan berkembangnya peradaban manusia, Allah SWT telah menurunkan beberapa Rasul pilihan untuk menyebarkan agama-Nya pada manusia. Tentu saja turunnya wahyu dan para utusan bukan karena Allah SWT ingin menjadi sesembahan yang harus dipuja, namun justru karena sifat penuh kasih-Nya yang tidak ingin manusia lepas dari jati diri. Allah berbelas hati mengingatkan manusia pada jati dirinya, membantu mereka menemukan apa. Esensi dari kehidupan itu sendiri. Para utusan Tuhan ini kemudian disebut dengan Rasul. Dan sebagai seorang pilihan yang juga lahir sebagai manusia, kita harus tahu Sifat jaiz Rasul dan juga sifat-sifat yang lain untuk memahami mereka dengan lebih matang.

Seorang umat yang tidak mengetahui sifat-sifat Rasul-Nya, tidak akan membuat sang utusan kehilangan apapun. Namun, untuk bisa menjalankan ibadah juga berbagai macam anjuran agama yang disampaikan oleh Rasul secara benar, maka harus didasari oleh keimanan matang pada utusan tersebut. Karena itulah, untuk bisa mematangkan keimanan dalam cara kita beragama, semua Muslim harus meluangkan waktu untuk belajar memahami sifat-sifat yang dimiliki oleh Rasulnya.

Seorang Rasulullah yang diutus secara resmi melalui wahyu Allah untuk membimbing umat memahami agama-Nya haruslah memiliki sifat wajib.

Selain 1 sifat jaiz Rasul, ada 4 sifat wajib Rasul, yang juga berfungsi sebagai syarat mutlak dirinya, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, fathanah.

  1. Sifat shiddiq berarti benar, menegaskan bahwa seorang Rasul harus mampu menyerukan kebenaran dalam agama yang dia dakwahkan tanpa didampingi tendensi atau kepentingan apapun.
  2. Kedua, Amanah berarti mampu menjaga titipan. Seorang Rasul adalah manusia terpuji dan jujur yang mampu menerima dan menyampaikan semua titipan dengan tepat.
  3. Sifat ketiga adalah tabligh, yang secara sederhana bisa kita artikan menyeru. Seorang Rasul pasti adalah manusia pilihan yang memiliki sifat berani dan tegas. Keberanian Rasul tercermin dalam sifat tabligh, saat dia mampu menyerukan ajaran-ajaran agamanya secara jelas dan lantang tidak peduli seberapa sulit hambatan yang harus dihadapi setelahnya.
  4. Dan sifat terakhir yang wajib dimiliki oleh Rasul adalah fathanah. Untuk bisa menegaskan ketiga sifat sebelumnya, seorang Rasul pastilah manusia pilihan nan cerdas secara akal dan psikologis, yang mampu menghadapi segala masalah dalam hidupnya. Rasul adalah manusia cerdas, dan tidak mungkin bodoh.

Dalil-Dalil Tentang Sifat Jaiz Bagi Rasul Beserta Contohnya

Allah SWT berfirman:

مَا هَذَآ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ مِنْهُ وَ يَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُوْنَ

Artinya : “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan ia minum seperti apa yang kamu minum.” (Al-Mu’minun: 33).

Di ayat yang lain Allah SWT berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ إِلاَّ أَنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَ يَمْشُوْنَ فِى الأَسْوَاقِ

Artinya : “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum kamu melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Al-Furqon: 20).

Dengan memiliki empat karakteristik sifat wajib tadi, maka seakan-akan Rasul adalah seorang manusia sempurna tanpa cela. Namun menjadi Rasul bukan berarti harus meninggalkan segala sifat kemanusiaan dan juga dorongan-dorongan naluriah yang dimilikinya. Seorang Rasul tidak harus mampu berpuasa bertahun-tahun, atau tidak memerlukan minuman untuk menyegarkan tubuhnya. Seorang Rasul tidak harus terbang tanpa mengotori kakinya dengan menapak tanah seperti manusia biasa. Atau bukan berarti karena dia adalah pembawa syi’ar agama, maka Rasul tidak bisa mengambil istri untuk menjaga kesuciannya.

Karena itulah untuk menegaskan hal ini, Sifat jaiz Rasul berbunyi bahwa; seorang Rasul memiliki pembawaan yang sama dengan manusia biasa, dia makan, dia tidur, dia menikah, dan berjalan ke pasar seperti manusia lain. Dengan mengetahui sifat jaiz bagi Rasul ini, Allah pula seakan mengingatkan pada umat-Nya bahwa Rasul adalah utusan dan seorang manusia. Maka kurang tepat kiranya apabila seorang umat menyembah Rasul seperti menyembah Tuhannya. Dan sayangnya saat ini semakin banyak umat Muslim terjebak pada fanatisme semu. Yang tak hanya menyembah Rasul namun juga menyembah tokoh-tokoh tertentu yang dianggap suci tanpa dosa. Semoga kita semua menjadi Muslim yang mau berfikir, belajar, dan terhindar dari ironi semacam ini.

Kita sebagai Muslim memiliki kewajiban untuk meneladani semua sifat Rasul bahkan hal ini menjadi sunnah. Sunnah adalah segala sesuatu yang mendapatkan pahala jika dilakukan namun tidak mendapatkan siksa jika tak dilakukan. Dan inilah yang sebaiknya dimengerti oleh umat, bahwa meneladani Rasul adalah sunnah bukan pemujaan seperti halnya menyembah Tuhan. Seorang Muslim yang baik akan berjalan berdampingan bersama Rasulnya, menyiarkan kebaikan dan menegakkan aqidah bersama-sama. Bukan mengekor di belakang sang utusan, yang sekedar mengikuti apapun perilaku Rasul. Sebagai manusia biasa, 1 sifat jaiz Rasul telah menegaskan bahwa seorang manusia pilihan pun tidak akan lepas dari ketidaksempurnaan makhluk.

Baca Juga : Doa Ulang Tahun dan Hukum Merayakan Ulang Tahun